Kutai Timur – Pemerataan listrik yang selama ini menjadi mimpi panjang bagi masyarakat desa-desa terpencil di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) akhirnya mulai bergerak lebih nyata.
Bupati Kutim sebelumnya menargetkan bahwa 13 desa akan dikebut pemerataannya dalam tiga bulan sejak pidato Hari Ulang Tahun (HUT) Kutim ke-26, dan kini progres itu mulai terasa di lapangan.
Pemasangan tiang listrik telah berjalan dan beberapa lokasi sudah memasuki tahap finalisasi jaringan.
Ketua Komisi C DPRD Kutim, Ardiansyah, memastikan bahwa pendataan desa-desa yang masuk program sudah rampung dan proses pengerjaan tidak lagi sekadar rencana.
“Ini sudah mulai kerja, sudah pemasangan tiang di lapangan,” ujar Ardiansyah saat diwawancarai.
Ardiansyah menegaskan bahwa program ini memang menjadi salah satu prioritas yang terus dikawal oleh jajaran anggota DPRD di masing-masing dapil.
Dalam daftar resmi yang ia sampaikan, sejumlah desa di Batu Ampar, Bengalon, Muara Bengkal, hingga enam desa di Sangkulirang dipastikan masuk realisasi tahun anggaran 2026.
Ardiansyah menyebut nama-nama itu satu per satu, memastikan masyarakat mengetahui bahwa program ini bukan hanya wacana.
“Untuk tahun ini kami dapat banyak di masing-masing kecamatan. Mudah-mudahan di 2026 ini bisa dapat semua,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah daerah, PLN, serta pengawalan legislatif agar proses teknis tidak tersendat.
Target Bupati yang dianggap cukup ambisius itu kini mulai menunjukkan tanda-tanda terwujud, terutama setelah beberapa desa lebih dulu diresmikan aliran listriknya.
“Kayak kemarin di Manubar dan Manubar Dalam sudah diresmikan Bupati, 24 jam kan itu. Nah ini tinggal nunggu enam desa lagi,” katanya.
Meski begitu, dirinya mengakui bahwa kebutuhan pemerataan listrik masih jauh lebih besar dari jumlah desa yang sudah masuk program tahun ini.
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berharap tahun anggaran berikutnya dapat menambah cakupan desa sehingga kesenjangan akses tidak terus melebar.
“Ini juga masih kurang sebenarnya,” ujarnya. “Tapi sudah cukup lumayan ada enam desa. Kita harap tahun depan bisa bertambah lagi.”
Di banyak tempat, listrik bukan hanya sekadar penerangan. Itu menjadi pintu ekonomi, pendidikan, dan akses informasi. Dan di Kutim, harapan itu kini sedang menyala pelan-pelan. (ADV/TS)
![]()









