Kutai Timur – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus mempercepat upaya penurunan angka keluarga berisiko stunting. Kepala DP2KB, Achmad Junaidi, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan masalah stunting di daerah tersebut. Dalam pembahasannya, Junaidi menjelaskan dua jenis data utama yang berperan dalam pengentasan stunting: data stunting dari Dinas Kesehatan dan data keluarga berisiko stunting yang dikelola oleh BP2KB Kutim.
Junaidi menjelaskan bahwa meskipun data stunting yang diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan Fasilitas Pelayanan Gizi Baik (FPGB) sangat penting, akses terhadap data tersebut terbatas karena adanya prosedur ketat yang menjaga kerahasiaannya. Sebagai solusi, data keluarga berisiko stunting yang lebih terjangkau dan mudah diakses oleh BP2KB Kutim menjadi dasar utama dalam upaya penurunan angka stunting. “Data keluarga berisiko stunting lebih terjangkau dan dapat segera dimanfaatkan untuk merancang intervensi yang tepat,” kata Junaidi.
Menurut data triwulan pertama tahun 2023, tercatat sekitar 19.000 keluarga berisiko stunting di Kutim. Namun, berkat kerja keras tim DP2KB yang melibatkan camat, kepala desa, penyuluh lapangan, dan operator data, angka tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 15.000 keluarga pada Juni 2024. “Pencapaian ini sangat signifikan. Kami terus berkolaborasi untuk memastikan data yang akurat dan mengimplementasikan langkah-langkah konkret untuk penurunan stunting,” ujar Junaidi.
Keberhasilan ini, menurut Junaidi, adalah hasil dari kerja tim yang solid, serta peran penting setiap pihak yang terlibat dalam pembaruan data dan eksekusi program. Junaidi juga memberikan apresiasi kepada para pendata yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengumpulkan data yang akurat dan relevan.
Dengan pendekatan berbasis kolaborasi antara pemerintah daerah, camat, kepala desa, serta sektor terkait, DP2KB Kutim optimis dapat terus menurunkan prevalensi keluarga berisiko stunting. “Kami berharap dengan kolaborasi yang terus ditingkatkan, Kutai Timur akan menjadi wilayah yang bebas dari masalah stunting,” tutup Junaidi. (Adv)
![]()







