Kutai TimurOlahragaPemerintah

Janji Sport Tourism Kutim, Wacana Besar, Infrastruktur Masih Tertinggal

Kutai Timur – Di balik semangat Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman untuk menjadikan panjat tebing sebagai pengungkit sektor pariwisata, tersimpan sejumlah catatan krusial soal kesiapan infrastruktur dan konsistensi pengembangan.

Saat melepas kontingen Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kutim menuju Kejurprov Kaltim 2025, Senin (5/5/2025), Ardiansyah menyoroti pentingnya pembaruan sarana panjat tebing. Ia menginginkan fasilitas berstandar internasional dibangun di Bukit Pelangi, lokasi strategis di jantung Sangatta.

Namun hingga kini, fasilitas panjat tebing yang digunakan masih menggunakan sarpras lama yang dibangun sejak awal 2000-an. Beberapa bagian bahkan sudah mengalami keausan. Padahal, Kutim sebelumnya sempat mencicipi kejayaan olahraga ini saat menjadi juara umum Porprov 2022. Sayangnya, perhatian jangka panjang terhadap fasilitas latihan belum menjadi prioritas anggaran.

“Kita ingin sarana ini ditingkatkan dan bisa bertaraf internasional,” ujar Ardiansyah di hadapan para atlet. Tapi belum jelas skema anggaran atau timeline pelaksanaannya.

Ardiansyah berkaca pada keberhasilan Pulau Miang pasca gelaran turnamen mancing internasional 2023. Namun, membandingkan SIFT dengan olahraga panjat tebing bukan perkara sederhana. SIFT sukses karena didukung infrastruktur laut dan promosi digital yang masif, termasuk kerja sama dengan pelaku wisata. Hal ini belum terlihat dalam rencana konkret sport tourism panjat tebing.

Alih-alih sekadar seremoni pelepasan atlet, pemerintah seharusnya memanfaatkan momen ini untuk mengumumkan roadmap pengembangan sport tourism. Termasuk penjadwalan revitalisasi wall panjat, pelibatan komunitas, hingga dukungan anggaran yang pasti dari APBD atau CSR.

Tanpa kejelasan arah dan dukungan konkret, potensi besar panjat tebing di Kutim bisa kembali sekadar menjadi retorika. Apalagi jika tidak ada kesinambungan antara visi bupati dan eksekusi teknis OPD terkait.

Fasilitas olahraga bukan hanya soal kebanggaan, tapi juga keberlanjutan. Jika ingin menjadikan Kutim sebagai tuan rumah event panjat tebing berskala nasional atau internasional, maka pembangunan harus disertai komitmen lintas sektor dan kebijakan yang konsisten, bukan sekadar inspirasi sesaat. (SH)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *