Kutai Timur — Harapan baru bagi pergerakan industri, perdagangan, dan investasi di Kutai Timur (Kutim) semakin terasa menguat seiring berjalannya dua proyek strategis daerah: Pelabuhan Kenyamukan serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK). Kedua proyek ini dinilai menjadi tulang punggung dalam memperkuat konektivitas logistik sekaligus membuka jalur ekonomi yang lebih luas bagi daerah dalam jangka panjang.
Keberadaan pelabuhan dan KEK diharapkan mampu menekan biaya distribusi barang, mempercepat arus keluar-masuk komoditas, serta menarik investor untuk menanamkan modal di Kutim.
Anggota Komisi C DPRD Kutim, Aldriyansyah, menegaskan bahwa pelabuhan dan bandara merupakan simbol kemajuan daerah sekaligus kebutuhan mendesak untuk memperluas ruang ekonomi. Menurutnya, dua fasilitas vital tersebut akan menjadi fondasi mobilitas logistik yang lebih efisien dan berdampak langsung pada harga barang serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kalau pelabuhan dan bandara selesai, dampaknya luar biasa. Harga barang turun, ekonomi daerah tumbuh, dan peluang kerja terbuka,” ucapnya.
DPRD Kutim juga menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah memperpanjang runway Bandara Tanjung Bara agar dapat melayani penerbangan umum. Selama ini bandara masih terbatas pemanfaatannya, namun bila dioperasikan secara publik, akses warga serta pelaku usaha diprediksi meningkat signifikan dan berpengaruh pada frekuensi perpindahan manusia maupun barang.
Di sisi lain, progres pembangunan Pelabuhan Kenyamukan menunjukkan pergerakan yang lebih positif. Peningkatan akses jalan menuju lokasi pelabuhan saat ini terus dilakukan meski memerlukan waktu dan koordinasi teknis lintas instansi. Sementara itu, KEK MBTK juga mulai memasuki fase penguatan struktur serta kelengkapan administrasi sebelum beroperasi penuh sebagai kawasan industri strategis.
“Kami optimis dua-duanya bisa selesai bertahap, asal koordinasi antarinstansi dijaga. Kolaborasi itu penting untuk menghindari keterlambatan,” tegas Aldriyansyah.
Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur berskala besar tetap harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar warga. Pembangunan yang ideal, katanya, tidak boleh hanya berfokus pada megaproyek yang tampak megah, tetapi juga menyentuh persoalan nyata masyarakat seperti jalan desa, air bersih, hingga layanan sosial lainnya.
Bagi Kutim, pelabuhan dan bandara bukan sekadar bangunan fisik, melainkan gerbang masa depan yang menentukan kemajuan daerah. Ketika logistik menjadi lancar, investasi mengalir, dan arus industri bergerak, maka kesejahteraan harus dapat dinikmati merata oleh seluruh lapisan masyarakat — tidak hanya mereka yang berada di pusat pertumbuhan. (TS/ADV)
![]()







