AdvetorialDPRD Kabupaten Kutai Timur

Ketika Jalan Menentukan Nasib Wisata: Karangan dan Sandaran Masih Menunggu Perbaikan

Kutai Timur – Di banyak wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terutama di Kecamatan Karangan dan Sandaran, jalan bukan sekadar infrastruktur fisik. Itu adalah penentu apakah masyarakat bisa berkembang, apakah wisata bisa dikunjungi, dan apakah sebuah wilayah dianggap layak tumbuh.

Sayangnya, hingga kini, akses jalan masih menjadi titik paling rapuh yang menghalangi wajah pariwisata Kutim bergerak ke depan.

Anggota Komisi C DPRD Kutim, Aldryansyah, yang beberapa kali meninjau langsung kondisi lapangan, menggambarkan situasi jalan di sejumlah destinasi wisata sebagai persoalan yang terus berulang.

Mulai dari jalur tanah berbatu yang becek saat hujan hingga ruas jalan yang menurun kualitasnya karena hanya dibangun setengah-setengah.

Kondisi ini membuat perjalanan menuju kawasan wisata seperti Batu Lepok, sumebr air Bual-bual, hingga air terjun Tangga Bidadari tidak senyaman yang diharapkan.

“Kalau kita mau membangun pariwisata, akses jalannya dulu yang harus ditembuskan yang harus dibikin bagus,” tegas Aldryansyah saat diwawancarai.

Menurut Aldryansyah, perbaikan jalan bukan hanya mempermudah wisatawan, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada mobilitas barang.

Apabila akses sulit, maka rantai pasok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ikut terhambat, dan daerah kehilangan kesempatan untuk tumbuh.

Masalah ini semakin terasa ketika beberapa proyek jalan sebelumnya tidak selesai sepenuhnya. Ada ruas yang hanya dicor sebagian, sementara sisi lainnya tetap rusak.

Kondisi seperti itu bukan hanya membahayakan pengguna jalan, tetapi juga menghambat potensi wisata yang seharusnya bisa berkembang lebih cepat.

Ia berharap penyusunan program pembangunan di tahun-tahun mendatang memberikan ruang lebih besar untuk perbaikan akses jalan menuju kawasan wisata dan daerah-daerah terpencil.

Dirinya menekankan bahwa ketika jalan dibangun dengan baik, masyarakat akan merasakan dampaknya langsung, pendapatan meningkat, kunjungan wisata bertambah, dan wilayah yang sebelumnya terisolasi mulai terbuka.

Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal keindahan, tetapi soal bagaimana orang bisa mencapainya.

Selama jalan masih menjadi hambatan, potensi wisata Kutim akan terus tertahan pada batas-batas yang sebenarnya dapat ditembus. (ADV/TS)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *