Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) dengan meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, khususnya pada aspek diagnosis dan penemuan kasus. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi daerah dalam mendukung target nasional eliminasi TBC pada tahun 2030, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh layanan pemeriksaan yang lebih cepat dan akurat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, Yuwana, saat menghadiri Rapat Pemantapan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Kabupaten Kutai Timur yang berlangsung di Ruang Damar, Gedung Serba Guna (GSG), Kamis (23/7/2026). Menurutnya, target penanggulangan TBC yang ditetapkan pada tahun 2026 cukup besar sehingga membutuhkan penguatan pelayanan kesehatan secara menyeluruh.
Yuwana menjelaskan bahwa Kabupaten Kutai Timur menargetkan penemuan 9.884 kasus TBC serta pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada 2.117 kelompok yang memiliki risiko tinggi. Untuk mencapai sasaran tersebut, berbagai strategi terus diperkuat. Ia mengatakan, “Kami terus memperkuat program penanggulangan TBC melalui peningkatan penemuan kasus secara aktif, investigasi kontak, penguatan kapasitas laboratorium, menjamin ketersediaan obat TBC, serta memperkuat sistem pencatatan dan pelaporan melalui SITB.”
Selain meningkatkan metode penemuan kasus, pemerintah juga terus melengkapi fasilitas diagnostik. Saat ini Dinkes Kutai Timur telah memiliki lima unit alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk pemeriksaan TBC. Pada tahun ini, jumlah tersebut akan bertambah dengan dua unit TCM baru serta dua unit portable X-Ray yang akan ditempatkan di RSUD Kudungga dan RSUD Sangkulirang. Di samping itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memberikan hibah berupa 17 unit alat MPO City yang dapat membantu pemeriksaan bakteri penyebab TBC melalui metode yang lebih praktis.
Menurut Yuwana, penguatan sarana pemeriksaan diharapkan mampu mempercepat proses diagnosis sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan sebelum terjadi penularan kepada orang lain. Ia menambahkan bahwa pencapaian target eliminasi TBC tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan. Menutup keterangannya, Yuwana menyampaikan, “Kami optimistis target tersebut dapat diwujudkan karena Kutim memiliki komitmen pemerintah daerah yang kuat, tenaga kesehatan yang berdedikasi, serta dukungan kader kesehatan dan PPTI yang aktif hingga tingkat desa.” Kolaborasi tersebut diyakini akan memperkuat upaya percepatan eliminasi TBC sekaligus meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Kutai Timur. (CV/ADV)
![]()







