Kutai Timur – Jangkauan layanan kesehatan terus diperluas oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) sebagai bagian dari strategi untuk mempercepat penanggulangan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di wilayahnya. Melalui penguatan layanan hingga ke tingkat puskesmas, rumah sakit, dan berbagai wilayah pedalaman, pemerintah daerah berupaya memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih mudah terhadap deteksi dini maupun pengobatan HIV.
Upaya tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan HIV Tahun 2026, yang dibuka oleh Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, bertempat di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutai Timur, pada Jumat (24/7/2026).
Dalam arahannya, Mahyunadi menegaskan bahwa upaya penanggulangan HIV memerlukan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, agar pelayanan kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan sekaligus mampu menjangkau seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Kutai Timur.
“Kehadiran kita semua di sini sangat penting untuk membuat angka HIV di Kutim bisa berkurang. Oleh karena itu semua pemikiran dan masukan yang dapat mendukung penurunan kasus diharapkan bisa disampaikan dalam rapat ini,” ujar Mahyunadi.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur, Yuwana, menjelaskan bahwa luas wilayah Kutai Timur yang mencapai lebih dari 35 ribu kilometer persegi menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan layanan kesehatan secara merata. Meski demikian, ia memastikan bahwa pemerintah daerah (pemda) terus berupaya memperkuat pelayanan HIV melalui jejaring 21 puskesmas yang tersebar di 18 kecamatan, lengkap dengan petugas pemegang program yang telah menerima pelatihan khusus terkait penanganan HIV.
Yuwana menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan tersebut tidak hanya berfungsi memberikan pelayanan pengobatan semata, tetapi juga aktif menjalankan program edukasi, konseling, hingga pemeriksaan HIV secara sukarela kepada masyarakat yang bersedia.
Selain itu, Dinkes juga terus mendorong perluasan layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) di sejumlah puskesmas, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, serta klinik-klinik yang ada, sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan tersebut secara lebih mudah, cepat, dan tetap terjaga kerahasiaannya.
Yuwana mengakui, hingga saat ini masih terdapat tantangan berupa rendahnya kesediaan sebagian masyarakat untuk menjalani pemeriksaan HIV, yang salah satunya disebabkan oleh stigma yang masih berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu, selain terus memperluas akses layanan, pemerintah daerah juga terus menggencarkan program edukasi kepada masyarakat, agar semakin memahami pentingnya deteksi dini serta pengobatan sejak tahap awal.
Melalui penguatan layanan kesehatan yang menjangkau hingga ke wilayah pedalaman tersebut, Pemkab Kutai Timur berharap semakin banyak masyarakat yang mau memanfaatkan fasilitas pemeriksaan HIV secara sukarela. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan penemuan kasus sejak dini, mempercepat proses pengobatan, sekaligus mendukung tercapainya target eliminasi HIV di daerah yang dikenal dengan semboyan Tuah Bumi Untung Benua tersebut pada tahun 2030 mendatang. (DZ/ADV)
![]()







