AdvetorialPemerintah Kutai Timur

Kepala Dinkes Yuwana: Cegah Stunting, Pentas Kutim Perkuat Pendampingan Ibu Hamil dan Remaja Putri

Kutai Timur – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak hanya menyasar anak-anak yang telah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan ke dunia. Melalui program Pelayanan Terpadu dan Serentak Tuntaskan Stunting (Pentas Kutim), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur memperkuat upaya pencegahan melalui pendampingan terhadap ibu hamil dan remaja putri, sebagai calon ibu di masa mendatang.

Kepala Dinkes Kutai Timur, Yuwana Sri Purnawiati, menjelaskan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk dengan mempersiapkan kesehatan perempuan sejak usia remaja. Menurutnya, kondisi kesehatan calon ibu memiliki pengaruh yang besar terhadap tumbuh kembang anak yang kelak akan dilahirkan.

Ia menjelaskan, salah satu perhatian utama dalam program tersebut adalah upaya pencegahan anemia pada remaja putri. Sebab, kondisi kekurangan darah yang terjadi saat memasuki masa kehamilan dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yang menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting pada anak.

“Remaja putri sudah harus kita siapkan jauh hari sebelumnya supaya mereka tidak anemia saat melahirkan nanti. Karena ibu hamil yang mengalami anemia berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, dan bayi dengan kondisi tersebut berpotensi menjadi stunting ke depannya,” jelas Yuwana dalam sambutannya di Gedung Serba Guna (GSG), pada Minggu (26/7/2026).

Melalui Pentas Kutim, Dinkes Kutai Timur akan memberikan pendampingan kesehatan bagi ibu hamil, serta pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, khususnya di lingkungan sekolah-sekolah yang tersebar di Kutai Timur. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pencegahan stunting sejak tahap paling awal kehidupan seseorang.

Selain itu, pemerintah daerah (pemda) juga akan memberikan perhatian khusus terhadap bayi dan balita yang telah teridentifikasi memiliki risiko stunting, melalui pemberian makanan tambahan serta pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya intervensi gizi yang dilakukan secara berkelanjutan.

Yuwana menegaskan, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan, mulai dari masa remaja, masa kehamilan, hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) seorang anak. Dengan memperkuat langkah pencegahan sejak dini tersebut, pemerintah berharap kualitas kesehatan generasi Kutai Timur dapat terus meningkat dari waktu ke waktu.

Ia menambahkan, pendekatan yang menyeluruh ini sejalan dengan prinsip bahwa pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga investasi pada kesehatan remaja putri dan ibu hamil menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan.

Melalui kolaborasi berbagai pihak yang terlibat, Pentas Kutim diharapkan tidak hanya menjadi program penanganan stunting semata, tetapi juga dapat menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak generasi Kutai Timur yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (DZ/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *