Kutai Timur – Penanganan stunting di suatu daerah tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi dari sektor kesehatan semata. Persoalan tersebut ternyata berkaitan erat dengan berbagai aspek lain, mulai dari sanitasi lingkungan, pola asuh, pendidikan, hingga kondisi sosial masyarakat secara keseluruhan.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) membangun kolaborasi lintas sektor melalui program Pentas Kutim (Pelayanan Terpadu dan Serentak Tuntaskan Stunting), agar upaya percepatan penurunan stunting di daerah dapat berjalan secara lebih menyeluruh dan tepat sasaran.
Kepala Dinkes Kutai Timur, Yuwana Sri Purnawiati, mengatakan bahwa keberhasilan dalam menurunkan angka stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, baik dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa, hingga masyarakat secara luas.
Menurutnya, masih banyak faktor di luar persoalan gizi yang turut memengaruhi proses tumbuh kembang anak. Salah satu contohnya adalah kondisi sanitasi yang kurang memadai, sehingga membuat anak menjadi lebih rentan mengalami penyakit infeksi secara berulang.
“Untuk menuntaskan stunting ini kita tidak bisa hanya berdiri sendiri dari kesehatan. Tidak bisa berdiri sendiri dari PPKB (Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana). Tetapi harus melibatkan banyak faktor. Misalnya anak sering diare karena tidak memiliki jamban yang sehat. Di sinilah perlu peran Perkim untuk membantu penyediaan jamban dan memperbaiki sanitasi lingkungan,” ujar Yuwana di Gedung Serba Guna (GSG), pada Minggu (26/7/2026).
Yuwana menjelaskan, konsep kolaborasi tersebut menjadi salah satu kekuatan utama dari program Pentas Kutim. Selain melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan, program ini juga turut menggandeng Posyandu, satuan pendidikan, pemerintah desa, hingga berbagai organisasi masyarakat, agar setiap intervensi yang dilakukan dapat saling mendukung dan memberikan dampak yang lebih besar.
Ia menambahkan, pendekatan lintas sektor tersebut memungkinkan penanganan stunting dapat dilakukan secara lebih komprehensif, mulai dari pemenuhan gizi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, perbaikan sanitasi lingkungan, hingga edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin dan berkelanjutan.
Melalui sinergi tersebut, Dinkes Kutai Timur berharap seluruh program yang dijalankan oleh berbagai perangkat daerah dapat saling menguatkan satu sama lain, sehingga target penurunan angka stunting di Kutai Timur dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
Yuwana menegaskan, kolaborasi lintas OPD ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan kebutuhan nyata di lapangan, mengingat akar persoalan stunting yang kompleks dan saling berkaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya.
Ia turut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung program tersebut, karena investasi terhadap kesehatan anak pada hari ini akan sangat menentukan lahirnya generasi Kutai Timur yang sehat, cerdas, dan berdaya saing pada masa mendatang. (DZ/ADV)
![]()







