AdvetorialPemerintah Kutai Timur

Bupati Kutim Dorong Edukasi Perencanaan Keluarga untuk Cegah Perkawinan Usia Anak

Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus menekankan pentingnya langkah pencegahan dalam upaya menurunkan angka stunting. Selain melalui peningkatan layanan kesehatan dan pemenuhan gizi, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk menunda perkawinan usia anak agar calon orang tua memiliki kesiapan yang memadai sebelum membangun keluarga.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, usai menghadiri peluncuran Program Pelayanan Terpadu dan Serentak Tuntaskan Stunting (Pentas Kutim) yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Gedung Serba Guna (GSG), Minggu (26/7/2026). Menurutnya, pencegahan stunting harus dimulai sejak sebelum seorang anak lahir dengan mempersiapkan calon orang tua yang matang dari berbagai aspek.

Ardiansyah menjelaskan bahwa keberhasilan berbagai program penurunan stunting sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga secara terencana. Oleh karena itu, edukasi terkait kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, dan usia yang tepat untuk menikah perlu terus diperluas agar dapat menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda.

“Kita harus membangun kesadaran masyarakat bahwa membentuk keluarga membutuhkan kesiapan. Jangan sampai anak-anak kita menikah sebelum benar-benar siap, karena hal itu akan berpengaruh terhadap kualitas generasi yang akan dilahirkan,” ujar Ardiansyah saat diwawancarai.

Ia menuturkan bahwa perkawinan pada usia yang terlalu muda dapat meningkatkan berbagai risiko, baik bagi ibu maupun anak. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan ibu selama kehamilan, tetapi juga dapat memengaruhi proses tumbuh kembang anak setelah lahir. Karena itu, upaya mencegah perkawinan usia anak dinilai menjadi salah satu bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.

Menurut Ardiansyah, penyebarluasan edukasi mengenai perencanaan kehidupan berkeluarga tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja. Keluarga, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi kepemudaan diharapkan ikut berperan dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya mempersiapkan diri sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Ia menilai Program Pentas Kutim menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mendukung pencegahan stunting secara menyeluruh. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penanganan balita yang berisiko mengalami stunting, tetapi juga memperhatikan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kualitas kehidupan keluarga sejak tahap awal.

Ardiansyah berharap semakin banyak masyarakat menyadari pentingnya membangun keluarga yang sehat, mandiri, dan siap menjalankan peran sebagai orang tua. Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, pemerintah optimistis upaya menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kutai Timur dapat terlaksana secara lebih efektif dan berkelanjutan. (ADV/DW)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *