Sangatta – Penularan Penyakit Tuberculosis (TBC) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terhitung cukup susah untuk dideteksi disebabkan letak geografis yang cukup luas dan pergerakan keluar masuk nya penduduk lokal dan pendatang.
Hal ini disampaikan oleh Haswati S.Kep, Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinkes Kutim saat ditanya tentang kendala penutunan angka penderita TBC di Kutim.
Disamping kendala yang dihadapi, Haswati S.Kep, Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinkes Kutim mengatakan bahwa pihaknya melakukan kerjasama dengan organisasi yang terlibat didalamnya seperti Perkumpulan Pemberantas Tuberculosis Indonesia (PPTI).
“Hal ini kami lakukan untuk memperkecil kesenjangan antara masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Haswati menyebutkan bahwa kasus TBC di Kutim tidak pernah mencapai target nasional 85 persen, terhiung hanya sekitar 54 persen.
“Menurut data yang kami peroleh, daerah dengan penderita tertinggi untuk kasus TBC ini ada di ibukota sangatta,” ungkapnya.
Menurutnya, hal ini dikarenakan Sangatta memiliki kepadatan penduduk terbesar dan TBC dapat manular melalui udara.
“Hal yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kita menemukan penderita TBC Resisten yang sudah bermutasi dan lebih kebal terhadap obat,” jelanya.
Haswati mengungkapkan bahwa poin penting untuk memutuskan penularan TBC adalah dengan menemukan orang yang sakit sebagai penularnya.ADV
![]()







