Sangatta – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki potensi besar dalam merealisasikan pertanian terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas Sumber Daya Lahan maupun Manusia sehingga dapat menumbuhkan kemandirian dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutim yang juga menyebutkan tantangan yang akan dihadapi oleh petani sawah dalam perjalanan merealisasikan Pertanian terpadu di wilayah Kutim.
“Salah satu tantangan petani adalah terkait dengan air, karena hampir semua limbah buangan sawit masuk dan digunakan untuk irigasi sawah,” ujarnya.
Berdasarkan dengan hal tersebut, Faizal menyatakan petani sawah memiliki potensi gagal yang tinggi karena hampir semua daerah aliran sungai banyak ditanami sawit.
“Seharusnya ada jarak yang sudah ditentukan sekitar 200 meter dari aliran sungai tidak boleh ditanami sawit, tapi masih ada saja yang menanam disana dan mendirikan pabriknya,” jelasnya.
Faizal mengatakan ketahanan pangan masih akan tetap diupayakan dan pihaknya masih ingin melakukan percobaan di daerah Kaubun untuk melihat efektifitas penggunaan Pupuk Nitrobakter yang akan digunakan bukan hanya untuk tanah, tapi juga di kolam budidaya terpal.
“Bukan hanya membantu dalam pengadaan, tapi kami akan menghadirkan penemu pupuk tersebut sebagai pendamping,” ungkapnya.
Menurut Faizal, menyusur dari YouTube yang ia tonton bahwa dengan menggunakan pupuk tersebut, tanah dan kolam tersebut dapat menghasilkan pakan dengan sendirinya.
“Selain adanya SDM, Potensi lahan sawah yang bisa di kembangkan ada 800 hektar di bumi Rapak,” pungkasnya.ADV
![]()







