AdvetorialDPRD Kabupaten Kutai Timur

Harapan yang Tertahan di Karangan: Potensi Wisata Besar, Infrastruktur Masih Jadi Tembok Penghalang

Kutai Timur – Kecamatan Karangan memiliki potensi yang diperlukan untuk menjadi pariwisata yang menarik pengunjung di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Di sana ada air terjun Tangga Bidadari yang sering dibicarakan warga karena keindahan alaminya,

ada air panas Batu Lepok yang disebut-sebut memiliki daya tarik unik, dan ada pula pantai-pantai seperti Sekerat yang menyimpan potensi pesisir yang jarang tersentuh publik.

Namun potensi sebesar itu seolah hanya menjadi cerita yang beredar dari mulut ke mulut.
Akses jalan yang buruk, ketidakjelasan legalitas lahan, dan minimnya dukungan infrastruktur membuat Karangan seperti wilayah yang terjebak di antara peluang besar dan kenyataan yang pahit.

Anggota Komisi C DPRD Kutim, Aldryansyah, mengungkapkan bahwa masalah paling mendasar bukan sekadar anggaran, tetapi fondasi administrasi yang harusnya mengawal pembangunan.

“Kuncinya sebenarnya di situ,” ujar Aldryansyah saat diwawancarai di ruangannya.

Aldryansyah menegaskan bahwa tanpa kejelasan status lahan, pembangunan gazebo, toilet wisata, hingga akses jalan tambahan tidak bisa dianggarkan.

“Karena kan anggaran enggak bisa turun kalau semisal mau dibangun gazebo ke Dinas Pariwisata. Tapi ternyata lahan lahannya itu masuk HGU (Hak Guna Usaha) kan enggak bisa itu,” sambungnya.

Di sisi lain, kondisi akses jalan menjadi faktor yang menahan geliat pariwisata Karangan. Jalur menuju Batu Lepok, misalnya, sudah lama dikeluhkan pengunjung karena rusak parah.

Jalan berlubang, tidak rata, dan sebagian bahkan masih berupa tanah berbatu yang becek saat hujan membuat masyarakat luar enggan berkunjung.

Padahal menurutnya, lokasi itu menyimpan potensi alam yang luar biasa.

“Akses jalannya yang bermasalah,” ucapnya.

Di Kaliorang, air terjun Tangga Bidadari masih menjadi destinasi yang banyak dibicarakan tetapi belum tersentuh peningkatan berarti. Suasananya memang indah, airnya jernih, dan pemandangannya memberi pengalaman yang berbeda.

Namun bagi wilayah yang ingin menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi, keindahan saja tidak cukup. Perlu tempat istirahat, area parkir, penunjuk arah, penerangan, serta infrastruktur pengelolaan sampah.

Tanpa itu, daya tarik wisata hanya akan menjadi catatan kecil dalam perjalanan banyak orang, bukan sebuah industri yang bisa menggerakkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) setempat.

Ia juga menyinggung bahwa pantai-pantai di Pantai Manubar dan Karst Sangkulirang Mangkalihat sebenarnya dapat menjadi aset besar bagi Kutim.

Bahkan beberapa titik telah dikelola masyarakat lokal, meski kesederhanaannya membuat pengembangan lebih lanjut sulit dilakukan.

Minimnya promosi dan kurangnya dukungan pemasaran membuat destinasi-destinasi potensial ini tertinggal jauh dari kawasan wisata lain di Kaltim.

“Banyak sebenarnya potensi wisata di sana itu. Banyak sekali,” ujarnya.

Ia berharap bahwa pemerintahan saat ini, dengan segala perencanaan yang sedang disusun bersama DPRD, mampu menuntaskan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), membuka kembali peluang anggaran pariwisata, dan memperbaiki akses jalan ke titik-titik destinasi.

Sebab tanpa langkah dasar tersebut, Karangan hanya akan terus menjadi daerah yang menunggu giliran, berada dalam antrean panjang program daerah yang tak kunjung menyentuh.

Pada akhirnya, pariwisata adalah cerita tentang bagaimana sebuah wilayah dinilai layak dikunjungi. Karangan sudah memiliki ceritanya, karang, air panas, pantai, dan keindahan alam yang menghampar, yang belum dimilikinya adalah jembatan menuju peluang itu, yaitu legalitas yang kuat, infrastruktur yang layak, dan akses yang manusiawi.

Selama tiga hal itu belum bergerak, Karangan akan terus menjadi harapan yang tertahan, menunggu kapan potensi besarnya dilihat bukan hanya sebagai cerita, tapi sebagai masa depan. (TS/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *