AdvetorialDPRD Kabupaten Kutai Timur

Perlunya Evaluasi Beasiswa di Desa, Anggota Komisi A DPRD Kutim Soroti Sulitnya Akses Administrasi

Kutai Timur — Di tengah minimnya akses pendidikan di wilayah pedalaman, program beasiswa Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali dipertanyakan efektivitasnya.

Anggota Komisi A DPRD Kutim, Aidil Fitri, menilai bahwa distribusi bantuan pendidikan itu belum tentu menjangkau pelajar desa secara merata, terutama di wilayah terpencil Dapil 4.

Wah, ini masih belum tahu saya. Nanti akan saya cari informasinya,” ujar Aidil kepada awak media, mengakui perlunya pengecekan langsung sebelum memastikan pemerataan penerima beasiswa.

Menurut Aidil, persoalan utamanya bukan hanya soal anggaran, tetapi juga soal sistem distribusi dan penyampaian informasi yang belum sepenuhnya menjangkau desa-desa jauh.

Apalagi, jaringan yang belum merata pada setiap desa-desa di Kutim.

Ia menilai kondisi geografis yang terisolasi kerap membuat data tidak akurat dan informasi beasiswa tidak tersampaikan tepat waktu.

Di berbagai desa yang sulit diakses, pelajar harus menempuh jalan rusak dan fasilitas terbatas untuk sekadar bersekolah. Dalam situasi seperti itu, beasiswa bukan lagi hanya bantuan, tetapi kebutuhan mendesak yang menopang keberlanjutan pendidikan.

Dirinya menekankan pentingnya pendataan yang lebih aktif dan berbasis lapangan.

“Kalau di lapangan, tanya langsung. Baru saya dapat memberikan jawaban yang rill,” ungkapnya.

Ia juga mendorong agar sistem pemberian beasiswa tidak hanya terpaku pada kelengkapan administrasi, tetapi mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga dan tingkat keterjangkauan wilayah tempat tinggal pelajar.

Menurutnya, skema bantuan harus benar-benar menyasar mereka yang paling membutuhkan.

Dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 yang menurun, dirinya berharap pemerintah tetap mempertahankan alokasi beasiswa dan bahkan memperbaiki mekanisme penyalurannya agar lebih tepat sasaran.

“Supaya siswa-siswa di pedesaan juga bisa merasakan program beasiswa,” tuturnya.

Pria kelahiran 1977 itu menegaskan bahwa pemerataan pendidikan tidak cukup berfokus pada pembangunan fisik seperti gedung sekolah. Dukungan berkelanjutan bagi para pelajar melalui program beasiswa adalah bagian penting dari keadilan pendidikan.

“Itu harapan saya,” pungkasnya.(ADV/TS)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *