Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membawa balita ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Rendahnya angka kunjungan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim karena dapat menghambat upaya pemantauan pertumbuhan anak sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di daerah.
Persoalan tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Yuwana Sri Purnawiati, seusai peluncuran Program Pelayanan Terpadu dan Serentak Tuntaskan Stunting (Pentas Kutim) yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 di Gedung Serba Guna (GSG), Minggu (26/7/2026). Menurutnya, masih banyak orang tua yang menganggap kunjungan ke Posyandu tidak lagi diperlukan setelah anak menyelesaikan rangkaian imunisasi dasar.
Padahal, pemantauan kesehatan balita harus dilakukan secara berkelanjutan agar perkembangan fisik maupun status gizi anak dapat terus dipantau oleh tenaga kesehatan. Yuwana mengatakan, “Banyak orang tua menganggap setelah imunisasi selesai, anak tidak perlu lagi datang ke Posyandu. Padahal pemantauan berat badan, tinggi badan, dan status gizinya harus terus dilakukan sampai usia balita.”
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut membuat petugas kesehatan kehilangan kesempatan untuk mendeteksi lebih awal apabila terjadi perlambatan pertumbuhan pada anak. Akibatnya, penanganan yang seharusnya dapat diberikan sejak dini berisiko terlambat sehingga peluang mencegah stunting menjadi berkurang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan melalui Program Pentas Kutim terus memperluas strategi pemantauan balita. Selain mengoptimalkan pelayanan Posyandu, pemerintah juga melibatkan satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), dan Raudatul Athfal (RA) dalam kegiatan penimbangan. Di samping itu, penjangkauan langsung juga dilakukan kepada anak-anak yang belum mengikuti pemantauan kesehatan secara rutin.
Yuwana menegaskan bahwa fungsi Posyandu tidak terbatas pada pemberian imunisasi, tetapi juga menjadi sarana penting untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala. Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk lebih aktif memanfaatkan layanan tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan anak sejak usia dini. Menurutnya, dukungan keluarga, kader Posyandu, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah menjadi faktor penting agar lebih banyak balita dapat dipantau secara rutin sehingga risiko stunting dapat dikenali dan ditangani lebih cepat. (CV/ADV)
![]()







