AdvetorialPemerintah Kutai Timur

Pemanfaatan Pangan Lokal Jadi Strategi Dinkes Kutim Perkuat Upaya Penurunan Stunting

Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) terus mengintensifkan upaya percepatan penanganan stunting melalui berbagai program intervensi gizi. Salah satu strategi yang diterapkan adalah mengoptimalkan pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai bagian dari pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami gangguan pertumbuhan maupun yang masuk dalam kelompok berisiko stunting. Langkah tersebut dijalankan melalui program Pentas Kutim Pelayanan Terpadu dan Serentak Tuntaskan Stunting (Pentas Kutim).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, Yuwana Sri Purnawiati, menjelaskan bahwa pemberian makanan tambahan menjadi salah satu bentuk intervensi yang dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan adanya balita dengan risiko stunting atau pertumbuhan yang tidak sesuai dengan usianya. Program tersebut tidak hanya berfokus pada pembagian makanan, tetapi juga memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sesuai kondisi masing-masing.

“Anak-anak yang masuk kategori berisiko akan mendapatkan intervensi, salah satunya melalui pemberian makanan tambahan. Kami juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal agar program ini dapat berjalan berkelanjutan dan mudah diterapkan oleh masyarakat,” ujar Yuwana di Gedung Serba Guna (GSG) pada Minggu (26/7/2026).

Menurutnya, Kutai Timur memiliki beragam sumber pangan lokal yang kaya akan kandungan gizi dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan nutrisi balita. Potensi tersebut dinilai penting untuk dikenalkan kepada masyarakat agar keluarga dapat menyusun menu bergizi menggunakan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, tanpa harus bergantung pada produk tertentu.

Selain memberikan makanan tambahan, Dinas Kesehatan juga memperkuat edukasi kepada orang tua mengenai pola makan yang sesuai dengan usia anak. Materi yang diberikan meliputi pentingnya pemenuhan protein hewani, pemilihan bahan makanan bergizi, hingga cara mengolah makanan yang sederhana namun tetap memenuhi kebutuhan nutrisi anak.

Yuwana menilai keberhasilan program penurunan stunting tidak hanya bergantung pada intervensi dari pemerintah, tetapi juga pada komitmen keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat di rumah. Oleh sebab itu, pendampingan kepada orang tua menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Pentas Kutim agar perubahan perilaku terkait pemenuhan gizi anak dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Melalui pemantauan tumbuh kembang secara rutin, intervensi gizi yang tepat sasaran, serta penguatan edukasi kepada keluarga, Dinkes Kutim berharap angka stunting di daerah dapat terus menurun. Upaya tersebut diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam mencetak generasi yang sehat, berkualitas, dan memiliki daya saing sebagai sumber daya manusia unggul di masa mendatang. (ADV/DW)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *