AdvetorialPemerintah Kutai Timur

Wabup Kutim: Luas Wilayah Kutim 9 Kali Kabupaten Terluas di Jawa, Bidan Tetap Hadir

Kutai Timur — Luasnya wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menghadirkan tantangan tersendiri dalam pemerataan pelayanan kesehatan. Di tengah kondisi tersebut, para bidan dinilai tetap menunjukkan dedikasi tinggi dengan memberikan pelayanan hingga ke desa-desa terpencil yang sulit dijangkau.

Menurut Mahyunadi, dengan luas wilayah sekitar 35.747,50 kilometer persegi, Kutim ternyata lebih luas daripada kabupaten yang berada di Pulau Jawa. Kabupaten Sukabumi yang menjadi kabupaten terluas di Pulau Jawa hanya mempunyai luas 4.164 kilometer persegi, ini berarti Kutim 9 kali lebih luas daripada Sukabumi.

Kutim juga memiliki bentang geografis yang beragam. Sejumlah desa bahkan masih harus ditempuh melalui jalur sungai maupun perairan karena akses darat yang belum sepenuhnya tersedia.

“Baik Kabupaten Kutai Timur juga kita memiliki wilayah yang sangat luas. Ada daerah kita yang harus lewat sungai, ada daerah yang jalannya belum bisa ditempuh melalui darat. Hebatnya, di daerah-daerah yang susah itu bidan tetap ada di mana-mana,” ujar Mahyunadi pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke-75 di Ruang Meranti, Sangatta, Sabtu (1/8/2026).

Ia mengatakan, tantangan yang dihadapi bidan tidak hanya berkaitan dengan kondisi geografis, tetapi juga pengorbanan pribadi. Ia mencontohkan kisah seorang bidan yang setelah diangkat menjadi aparatur sipil negara harus bertugas di Muara Bengkal, jauh dari keluarga, bahkan menjalani kehamilan dan membesarkan anak dalam kondisi terpisah dengan suami.

“Tantangannya semakin kompleks. Setelah menikah, hamil, kemudian ditempatkan di Muara Bengkal. Sekarang sudah memiliki anak, tentu perjuangannya semakin besar. Inilah pengabdian bidan yang memang harus kita hargai,” tutur Mahyunadi.

Ia menilai, pengabdian para bidan merupakan bagian penting dalam memastikan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terpencil, tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Kehadiran bidan juga menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan primer sekaligus sumber edukasi kesehatan bagi masyarakat.

Mahyunadi berharap semangat pengabdian tersebut terus dipertahankan dan didukung melalui peningkatan pemerataan tenaga kesehatan, pengembangan kompetensi, serta penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai. Dengan demikian, pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Kutim. (SL/ADV)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *